jihad bil’ilmi
September 4, 2006JIHAD DALAM ISLAM
Oleh
Ibnul Qoyyim
Rahimahullah
Jihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam.
Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di
dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat. Rasulullah adalah orang yang paling
tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan
macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik
dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau
hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah,
beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi
Allah.
Allah memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus
sebagai Nabi, Allah berfirman
"Dan andaikata Kami menghendaki,
benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan
(rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah
terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar." [Al-Furqon :
51-52]
Surat ini termasuk surat Makiyah yang didalamnya terdapat perintah
untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta
menyampaikan Al-Qur’an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan
menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada dibawah kekuasaan kaum muslimin,
Allah ta’ala berfirman :
"Artinya : Hai Nabi, berjihadlah (melawan)
orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap
mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang
seburuk-buruknya." [At-Taubah : 73]
Jihad melawan orang-orang munafik
(dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir
(dengan pedang-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan
orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa
melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia.
Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi
Allah.[2]
Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran
meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran
kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul
-sholawatullahi ‘alaihim wa salaamuhu- termasuk yang paling
sempurna
Jihad melawan musuh-musuh Allah diluar (kaum muslimin) termasuk
cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di
dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi :
"Artinya
: Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan
Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah" [Hadits
Riwayat Ahmad dan sanadnya jayyid/baik]
Oleh sebab itu, jihad terhadap
diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal
tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap
dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang
dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan
orang-orang kafir[3]. Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan
musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih
menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin
dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu
berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]
Kedua musuh itu
adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak
mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini.
Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar
tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa mengambarkan kepada seorang
hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan
kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua
musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Oleh karenanya, jihad
melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu
adalah setan, Allah ta’ala berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)" [Faathir :
6]
Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan
agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena
musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang
masa.
(Kemudian beliau berkata -pent) Jika hal diatas sudah dimengerti
maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:
[1]. Jihad melawan diri
sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan
a.
Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan
di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia
akan sengsara di dunia dan di akhirat.
b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu
yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal
ilmunya tidak bermanfaat.
c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia)
kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka
dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan
tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab
Allah.
d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah
serta gangguan manusia karena Allah.
Jika seorang hamba telah
menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin
(orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak
bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan
mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan
mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni
langit.
[2]. Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian
:
a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam
keimanan
b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat Jihad yang pertama akan
melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah
ta’ala berfirman :
"Artinya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka
sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." [As-Sajdah : 24]
Allah
ta’ala mengkabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan
kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan
jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.
[3].
Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad
dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir
lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih
dikhususkan dengan lisan.
[4]. Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli
bid’ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan
bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka
dengan hati.
Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang
mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk
berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan) [6]
Dan tidak akan
sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa
keimanan [7]. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang
menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta’ala berfirman
"Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad
di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." [Al-Baqoroh : 218]
Sebagaimana keimanan adalah
kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di
setiap saat :
[1]. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya,
ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.
[2].
Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada
perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan
perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang artinya
:
"Artinya : Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka
hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada
dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrohnya kepada apa yang dia
niatkan".[8]
Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah
dan jihad melawan setan adalah fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan kepada
seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu
kifayah.
[Diterjemahkan dari kitab Zaadul Ma’aad Fii Hadyi Khoiril Ibaad
3/5 – 11, Penulis Ibnul Qoyyim Rahimahullah, Penerjemah Abu Abdirrahman bin
Thayyib As-Salafy Lc, copyright salafindo.com. Disalin ulang dari Majalah
Adz-Dzakirah Al-Islamiyyah Edisi 17 ThIV/Dzulqa’dah 1426H/Desember 2005M.
Diterbitkan Oleh Ma’had Ali-Al-Irsyad Surabaya, Jl Sultan Iskandar Muda 46
Surabaya]
________
Foot Note
[1]. Kami terjemahkan dari kitab "Zaadul
ma aad fii hadyi khoiril ibaad" 3/5-11 oleh Ibnul Qoyyim, tapi ada sebagian yang
kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan
kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad
dengan senjata (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak
penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak
berjihad dan menihilkan jihad. Insya Allah pada edisi berikutnya kita akan
membahas tentang kaidah-kaidah dalam berjihad agar jihadnya seorang muslim
didasari oleh ilmu bukan hawa nafsu maupun kejahilan yang diiringi semangat yang
terlalu menggebu hingga lebih banyak merusak daripada membangun, seperti yang
dikatakan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz “Barangsiapa yang beribadah kepada
Allah tanpa ilmu maka dia banyak merusak daripada memperbaiki” (pent)
[2].
Dari keterangan Ibnul Qoyyim v ini, masihkah ada orang yang mencela dan mencaci
maki para ulama, karena mereka belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa
mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah di masjid-masjid ??? Ataukah justru mereka akan
menvonis bahwa Ibnul Qoyyim menihilkan jihad ? (pent)
[3]. Diantaranya dengan
berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush sholeh
serta menghilangkan kebodohan dalam dirinya terutama dalam masalah aqidah.
(pent)
[4]. Adapun hadits yang berbunyi "Kita telah kembali dari jihad kecil
kepada jihad besar" maka hadits ini tidak shohih. Lihat "Kasyful khofa "1/424.
(pent)
[5]. Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya
menyempitkan arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata.
(pent)
[6].Hadits Riwayat .Muslim (1910).
[7]. Tidakkah mereka yang selalu
mengembar-ngemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro
memahami hal ini ? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang dan malam sedangkan
banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah
mereka terus meneriakkan jihad di tengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan,
penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal
di pelupuk mata mereka ??? Apakah mereka sengaja menutup mata ? Mengapa mereka
tidak mau dan enggan untuk memulai dan menfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu
kepada dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan
Rasulullah ? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan lebih baik
dari metode dakwahnya Rasul dan para rasul-rasul lainnya ??? (pent)
[8].
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1811&bagian=0
Posted by alfaishol