jihad bil’ilmi

September 4, 2006

JIHAD DALAM ISLAM

Oleh
Ibnul Qoyyim
Rahimahullah

Jihad merupakan tulang punggung dan kubah Islam.
Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di surga, begitu juga di
dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat. Rasulullah adalah orang yang paling
tinggi derajatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan
macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik
dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau
hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh karena itulah,
beliau amat harum namanya (di sisi manusia-pent) dan paling mulia di sisi
Allah.

Allah memerintahkan beliau untuk berjihad semenjak beliau diutus
sebagai Nabi, Allah berfirman

"Dan andaikata Kami menghendaki,
benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan
(rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah
terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar." [Al-Furqon :
51-52]

Surat ini termasuk surat Makiyah yang didalamnya terdapat perintah
untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta
menyampaikan Al-Qur’an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan
menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada dibawah kekuasaan kaum muslimin,
Allah ta’ala berfirman :

"Artinya : Hai Nabi, berjihadlah (melawan)
orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap
mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang
seburuk-buruknya." [At-Taubah : 73]

Jihad melawan orang-orang munafik
(dengan hujjah-pent) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir
(dengan pedang-pent), karena (jihad dengan hujjah-pent) hanya bisa dilakukan
orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa
melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia.
Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi
Allah.[2]

Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran
meski banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran
kepada orang yang dikhawatirkan gangguannya. Oleh karena inilah, para Rasul
-sholawatullahi ‘alaihim wa salaamuhu- termasuk yang paling
sempurna

Jihad melawan musuh-musuh Allah diluar (kaum muslimin) termasuk
cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di
dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi :

"Artinya
: Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan
Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah" [Hadits
Riwayat Ahmad dan sanadnya jayyid/baik]

Oleh sebab itu, jihad terhadap
diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal
tersebut merupakan pondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap
dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang
dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan
orang-orang kafir[3]. Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir sedangkan
musuh (hawa nafsu) nya yang berada disamping kiri dan kanannya masih
menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin
dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu
berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]

Kedua musuh itu
adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak
mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini.
Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghadang, menipu dan menggoda hamba agar
tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia senantiasa mengambarkan kepada seorang
hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan
kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua
musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Oleh karenanya, jihad
melawannya adalah pondasi dalam berjihad melawan keduanya. Musuh yang ketiga itu
adalah setan, Allah ta’ala berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)" [Faathir :
6]

Perintah untuk menjadikan setan sebagai musuh merupakan peringatan
agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, karena
musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang
masa.

(Kemudian beliau berkata -pent) Jika hal diatas sudah dimengerti
maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:

[1]. Jihad melawan diri
sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbagi lagi menjadi empat tingkatan

a.
Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan
di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia
akan sengsara di dunia dan di akhirat.

b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu
yang dia pelajari, karena ilmu tanpa amal jika tidak memadharatkannya, minimal
ilmunya tidak bermanfaat.

c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia)
kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka
dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan
tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari adzab
Allah.

d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah
serta gangguan manusia karena Allah.

Jika seorang hamba telah
menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin
(orang-orang Robbani). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak
bisa dikatakan Robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan
mengajarkannya. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan
mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dikalangan para penghuni
langit.

[2]. Jihad melawan setan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bagian
:

a. Berjihad dalam menolak syubhat (kerancuan) dan keraguan dalam
keimanan
b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat Jihad yang pertama akan
melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah
ta’ala berfirman :

"Artinya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka
sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." [As-Sajdah : 24]

Allah
ta’ala mengkabarkan bahwa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan
kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat serta keinginan
jelek sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan serta kerancuan.

[3].
Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad
dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir
lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih
dikhususkan dengan lisan.

[4]. Jihad melawan orang-orang dzolim, ahli
bid’ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahapan. Dengan tangan
bila mampu, jika tidak maka pindah dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka
dengan hati.
Inilah tiga belas tahapan dalam jihad dan (Barangsiapa yang
mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk
berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan) [6]

Dan tidak akan
sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa
keimanan [7]. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang
menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta’ala berfirman

"Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad
di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." [Al-Baqoroh : 218]

Sebagaimana keimanan adalah
kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di
setiap saat :

[1]. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya,
ikhlas, bertobat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.

[2].
Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada
perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan
perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang artinya
:

"Artinya : Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka
hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada
dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrohnya kepada apa yang dia
niatkan".[8]

Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah
dan jihad melawan setan adalah fardhu ain yang tidak bisa diwakilkan kepada
seorangpun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu
kifayah.

[Diterjemahkan dari kitab Zaadul Ma’aad Fii Hadyi Khoiril Ibaad
3/5 – 11, Penulis Ibnul Qoyyim Rahimahullah, Penerjemah Abu Abdirrahman bin
Thayyib As-Salafy Lc, copyright salafindo.com. Disalin ulang dari Majalah
Adz-Dzakirah Al-Islamiyyah Edisi 17 ThIV/Dzulqa’dah 1426H/Desember 2005M.
Diterbitkan Oleh Ma’had Ali-Al-Irsyad Surabaya, Jl Sultan Iskandar Muda 46
Surabaya]
________
Foot Note
[1]. Kami terjemahkan dari kitab "Zaadul
ma aad fii hadyi khoiril ibaad" 3/5-11 oleh Ibnul Qoyyim, tapi ada sebagian yang
kami anggap tidak perlu diterjemahkan (hal 6-8) agar tidak terlalu panjang. Dan
kami hadiahkan terjemahan ini kepada mereka yang selalu meneriakkan kata jihad
dengan senjata (pengeboman), yang senantiasa mengajak umat untuk memberontak
penguasa dengan nama jihad, yang menuduh para ulama Dakwah Salafiyah tidak
berjihad dan menihilkan jihad. Insya Allah pada edisi berikutnya kita akan
membahas tentang kaidah-kaidah dalam berjihad agar jihadnya seorang muslim
didasari oleh ilmu bukan hawa nafsu maupun kejahilan yang diiringi semangat yang
terlalu menggebu hingga lebih banyak merusak daripada membangun, seperti yang
dikatakan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz “Barangsiapa yang beribadah kepada
Allah tanpa ilmu maka dia banyak merusak daripada memperbaiki” (pent)
[2].
Dari keterangan Ibnul Qoyyim v ini, masihkah ada orang yang mencela dan mencaci
maki para ulama, karena mereka belum pernah mengangkat pedang dan hanya bisa
mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah di masjid-masjid ??? Ataukah justru mereka akan
menvonis bahwa Ibnul Qoyyim menihilkan jihad ? (pent)
[3]. Diantaranya dengan
berjihad menuntut ilmu agama yang benar sesuai dengan pemahaman salafush sholeh
serta menghilangkan kebodohan dalam dirinya terutama dalam masalah aqidah.
(pent)
[4]. Adapun hadits yang berbunyi "Kita telah kembali dari jihad kecil
kepada jihad besar" maka hadits ini tidak shohih. Lihat "Kasyful khofa "1/424.
(pent)
[5]. Dari sini terlihat jelas kesalahan sebagian orang yang hanya
menyempitkan arti jihad dengan jihad melawan orang-orang kafir dengan senjata.
(pent)
[6].Hadits Riwayat .Muslim (1910).
[7]. Tidakkah mereka yang selalu
mengembar-ngemborkan jihad melawan orang-orang kafir Yahudi maupun Nashoro
memahami hal ini ? Mereka menyeru umat untuk berjihad siang dan malam sedangkan
banyak dari umat Islam ini yang masih rusak aqidah dan keimanannya. Akankah
mereka terus meneriakkan jihad di tengah kaum muslimin sedangkan kesyirikan,
penyembahan terhadap wali-wali, sunan-sunan serta kyai-kyai yang telah meninggal
di pelupuk mata mereka ??? Apakah mereka sengaja menutup mata ? Mengapa mereka
tidak mau dan enggan untuk memulai dan menfokuskan dakwah mereka terlebih dahulu
kepada dakwah Tauhid dan memberantas kesyirikan seperti yang dilakukan
Rasulullah ? Apakah mereka menganggap metode yang mereka jalankan lebih baik
dari metode dakwahnya Rasul dan para rasul-rasul lainnya ??? (pent)
[8].
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1811&bagian=0


hadits lemah tentang bulan romadlon?

September 4, 2006

HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN
RAMADHAN

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan
Ali Abdul Hamid

Kami menilai perlunya dibawakan pasal
ini pada kitab kami, karena adanya sesuatu yang teramat penting yang tidak
diragukan lagi sebagai peringatan bagi manusia, dan sebagai penegasan terhadap
kebenaran, maka kami katakan :

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan
sunnah Nabi secara adil, (untuk) memusnahkan penyimpangan orang-orang sesat dari
sunnah, dan mematahkan ta’wilan para pendusta dari sunnah dan menyingkap
kepalsuan para pemalsu sunnah.

Sejak bertahun-tahun sunnah telah
tercampur dengan hadits-hadits yang dhaif, dusta, diada-adakan atau lainnya. Hal
ini telah diterangkan oleh para imam terdahulu dan ulama salaf dengan penjelasan
dan keterangan yang sempurna.

Orang yang melihat dunia para penulis dan
para pemberi nasehat akan melihat bahwa mereka -kecuali yang diberi rahmat oleh
Allah- tidak memperdulikan masalah yang mulia ini walau sedikit perhatianpun
walaupun banyak sumber ilmu yang memuat keterangan shahih dan menyingkap yang
bathil.

Maksud kami bukan membahas dengan detail masalah ini, serta
pengaruh yang akan terjadi pada ilmu dan manusia, tapi akan kita cukupkan
sebagian contoh yang baru masuk dan masyhur dikalangan manusia dengan sangat
masyhurnya, hingga tidaklah engkau membaca makalah atau mendengar nasehat
kecuali hadits-hadits ini -sangat disesalkan- menduduki kedudukan tinggi. (Ini
semua) sebagai pengamalan hadits : "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat …"
[Riwayat Bukhari 6/361], dan sabda beliau : "Agama itu nasehat" [Riwayat Muslim
no. 55]

Maka kami katakan wabillahi taufik :

Sesungguhnya
hadits-hadits yang tersebar di masyarakat banyak sekali, hingga mereka hampir
tidak pernah menyebutkan hadits shahih -walau banyak-yang bisa menghentikan
mereka dari menyebut hadits dhaif.

Semoga Allah merahmati Al-Imam
Abdullah bin Mubarak yang mengatakan : "(Menyebutkan) hadits shahih itu
menyibukkan (diri) dari yang dhaifnya".

Jadikanlah Imam ini sebagai suri
tauladan kita, jadikanlah ilmu shahih yang telah tersaring sebagai jalan (hidup
kita).

Dan (yang termasuk) dari hadits-hadits yang tersebar digunakan
(sebagai dalil) di kalangan manusia di bulan Ramadhan,
diantaranya.

Pertama.

"Artinya : Kalaulah seandainya kaum
muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan
agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan
dari awal tahun kepada tahun berikutnya ….
" Hingga akhir hadits
ini.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi
di dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya
sebagaimana pada Al-Muthalibul ‘Aaliyah (Bab/A-B/tulisan tangan) dari jalan
Jabir bin Burdah dari Abu Mas’ud al-Ghifari.

Hadits ini maudhu’ (palsu),
penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam
Lisanul Mizan (2/101) dan beliau berkata : "Mashur dengan kelemahannya". Juga
dinukilkan perkataan Abu Nua’im, " Dia suka memalsukan hadits", dan dari
Bukhari, berkata, "Mungkarul hadits" dan dari An-Nasa’i, "Matruk" (ditinggalkan)
haditsnya".

Ibnul Jauzi menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, dan
Ibnu Khuzaimah berkata serta meriwayatkannya, "Jika haditsnya shahih, karena
dalam hatiku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub
Al-Bajali".

Kedua.

"Artinya :Wahai manusia, sungguh bulan yang
agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu
malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu)
sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan)
suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada
bulan yang lain …. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya
ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka ….
" sampai
selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan
perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
(1887) dan Al-Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al-Asbahani dalam At-Targhib
(q/178, b/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin
Al-Musayyib dari Salman.

Hadits ini sanadnya Dhaif, karena lemahnya Ali
bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, Di dalamnya ada kelemahan dan jangang berhujjah
dengannya, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Tidak kuat, berkata Ibnu Ma’in. Dha’if
berkata Ibnu Abi Khaitsamah, Lemah di segala penjuru, dan berkata Ibnu
Khuzaimah, Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya. Demikian
di dalam Tahdzibut Tahdzib [7/322-323].

Dan Ibnu Khuzaimah berkata
setelah meriwayatkan hadits ini, Jika benar kabarnya. berkata Ibnu Hajar di
dalam Al-Athraf, Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah,
sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As-Suyuthi di dalam Jami’ul Jawami (no.
23714 -tertib urutannya).

Dan Ibnu Abi Hatim menukilkan dari bapaknya di
dalam Illalul Hadits (I/249), hadits yang Mungkar

Ketiga.

"Artinya
: Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat"

Hadits tersebut merupakan
potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al-Kamil (7/2521) dari jalan
Nahsyal bin Sa’id, dari Ad-Dhahak dari Ibu Abbas. Nashsyal (termasuk) yang
ditinggal (karena) dia pendusta dan Ad-Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu
Abbas.

Diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/q
69/Al-Majma’ul Bahrain) dan Abu Nu’aim di dalam At-Thibun Nabawiy dari jalan
Muhammad bin Sulaiman bin Abi Dawud, dari Zuhair bin Muhammad, dari Suhail bin
Abi Shalih dari Abu Hurairah.

Dan sanad hadits ini lemah. Berkata Abu
Bakar Al-Atsram, "Aku mendengar Imam Ahmad -dan beliau menyebutkan riwayat
orang-orang Syam dari Zuhair bin Muhammad- berkata, "Mereka meriwayatkan darinya
(Zuhair,-pent) beberapa hadits mereka (orang-orang Syam, -pent) yang dhoif itu".
Ibnu Abi Hatim berkata, "Hafalannya jelek dan hadits dia dari Syam lebih mungkar
daripada haditsnya (yang berasal) dari Irak, karena jeleknya hafalan dia".
Al-Ajalaiy berkata. "Hadits ini tidak membuatku kagum", demikianlah yang
terdapat pada Tahdzibul Kamal (9/417).

Aku katakan : Dan Muhammad bin
Sulaiman Syaami, biografinya (disebutkan) pada Tarikh Damasqus (15/q 386-tulisan
tangan) maka riwayatnya dari Zuhair sebagaimana di naskhan oleh para Imam adalah
mungkar, dan hadits ini darinya.

Keempat

"Artinya : Barangsiapa
yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula
karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia
berpuasa pada satu tahun penuh
"
Hadits ini diriwayatkan Bukhari dengan
mu’allaq dalam shahih-nya (4/160-Fathul Bari) tanpa sanad.

Ibnu Khuzaimah
telah memasukkan hadits tersebut di dalam Shahih-nya (19870), At-Tirmidzi (723),
Abu Dawud (2397), Ibnu Majah (1672) dan Nasa’i di dalam Al-Kubra sebagaimana
pada Tuhfatul Asyraaf (10/373), Baihaqi (4/228) dan Ibnu Hajjar dalam Taghliqut
Ta’liq (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu
Hurairah.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (4/161) : "Dalam hadits
ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang
banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit : idhthirah (goncang), tidak
diketahui keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu
Hurairah".

Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkannya :Jika khabarnya
shahih, karena aku tidak mengenal Abil Muthawwas dan tidak pula bapaknya, hingga
hadits ini dhaif juga:.

Wa ba’du : Inilah empat hadits yang didhaifkan
oleh para ulama dan di lemahkan oleh para Imam, namun walaupun demikian kita
(sering) mendengar dan membacanya pada hari-hari di bulan Ramadhan yang
diberkahi khususnya dan selain pada bulan itu pada umumnya.

Tidak menutup
kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar,
yang sesuai dengan syari’at kita yang lurus baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah,
akan tetapi (hadits-hadits ini) sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan terlebih lagi -segala puji hanya
bagi Allah- umat ini telah Allah khususkan dengan sanad dibandingkan dengan
umat-umat yang lain. Dengan sanad dapat diketahui mana hadits yang dapat
diterima dan mana yang harus ditolak, membedakan yang shahih dari yang jelek.
Ilmu sanad adalah ilmu yang paling rumit, telah benar dan baik orang yang
menamainya : "Ucapan yang dinukil dan neraca pembenaran
khabar"
.

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi
wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid,
terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak
Ata]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1159&bagian=0


masihkah kita mau minum berdiri

September 4, 2006

Efek Minum Berdiri (Dari milist tetangga)
.

Semalam (20/8/06) saya ikut kajian kesehatan akupuntur
yang diadakan salah satu ahli akupuntur.

Saya baru sadar, mengapa Rasulullah melarang ummatnya
minum berdiri. Dalam hadist disebutkan “janganlah kamu
minum berdiri”

Ini dibuktikan dari segi kesehatan. Air yang masuk
dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer.

Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang
bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan
menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan
pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah.
Jika kita minum berdiri. Air yang kita minum tanpa
disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih.

Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi
pengendapan disaluran ureter. Karena banyak
limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa
menyebabkan penyakit kristal ginjal.

Salah satu
penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu
penyebabnya.

Cara mengatasinya :
1. biasakan minum duduk.

                               2. banyak minum air putih.

Sekarang, apakah kita masih mau minum berdiri?

Sumber ;
http://bangdha. multiply. com/journal/ item/14?last_ read=1&mark_ read=bangdha: journal:14

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——— —-
ASRULDIN AZIS
HP : 0817334401
Email : asruldin_azis@ yahoo.com
ELektro FTI Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya


ternyata derajat hadits mengenai puasa itu dho’if?

September 4, 2006

DERAJAT HADITS-HADTS TENTANG BACAAN WAKTU BERBUKA PUASA DAN
KELEMAHAN BEBERAPA HADITS TENTANG KEUTAMAAN/FADLILAH FADHILAH
PUASA

oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir
Abdat

Dibawah ini akan saya turunkan beberapa hadits tentang
dzikir atau do’a di waktu berbuka puasa Kemudian akan saya terangkan satu
persatu derajatnya sekalian. Maka, apa-apa yang telah saya lemahkan (secara ilmu
hadits) tidak boleh dipakai atau diamalkan lagi, dan mana yang telah saya
nyatakan syah (shahih atau hasan) bolehlah saudara-saudara amalkan. Kemudian
saya iringi dengan tambahan keterangan tentang kelemahan beberapa hadits
lemah/dla’if tentang keutamaan puasa yang sering dibacakan di mimbar-mimbar
khususnya di bulan Ramadhan.

Hadits Pertama

"Artinya : "Dari
Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila
berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika
Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim
(artinya : Ya Allah
! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah !
Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)".
[Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya 'Amal Yaum
wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu'jamul Kabir]

Sanad hadits ini
sangat Lemah/Dloif

Pertama :
Ada seorang rawi yang bernama : Abdul
Malik bin Harun bin ‘Antarah.
Dia ini rawi yang sangat lemah.
[1]. Kata
Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Dlo’if
[2]. Kata Imam Yahya : Kadzdzab
(pendusta)
[3]. Kata Imam Ibnu Hibban : Pemalsu hadits
[4]. Kata Imam
Dzahabi : Dia dituduh pemalsu hadits
[5]. Kata Imam Abu Hatim : Matruk
(orang yang ditinggalkan riwayatnya)
[6]. Kata Imam Sa’dy : Dajjal,
pendusta.

Kedua :
Di sanad hadits ini juga ada bapaknya Abdul Malik
yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama
ahli hadits. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban
telah berkata : "Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya), sama sekali
tidak boleh berhujjah dengannya".

Hadits ini telah dilemahkan oleh Imam
Ibnul Qoyyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani dan
lain-lain

Periksalah kitab-kitab :
[1]. Mizanul I’tidal 2/666
[2].
Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami
[3]. Zaadul Ma’ad di kitab
Shiyam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim
[4]. Irwaul Ghalil 4/36-39 oleh
Muhaddist Al-Albani.

Hadits Kedua.

"Artinya : Dari Anas, ia
berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau
mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya
: Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu
aku berbuka)". [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam
Awshath]

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if

Pertama :
Di sanad
hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly.
Dia seorang rawi yang lemah.
[1].
Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja
yang telah melemahkannya.
[2]. Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan
hadits-hadits yang tidak boleh diturut.
[3]. Kata Imam Abu Hatim dan
Daruquthni : Lemah !
[4]. Saya berkata Dia inilah yang meriwayatkan hadits
lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239).

Kedua
:
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
[1]. Kata Al-Albani : Dia
ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
[2]. Kata Imam Abu Dawud, Abu
Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
[3]. Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang
ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
[4]. Saya
berkata : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di
kitabnya Risalah Puasa akan tetapi beliau diam tentang derajat hadits ini
?

Hadits Ketiga

"Artinya : Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah
sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila
berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu ….." [Riwayat : Abu
Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy]

Lafadz
dan arti bacaan di hadits ini sama dengan riwayat/hadits yang ke 2 kecuali
awalnya tidak pakai Bismillah.

Dan sanad hadits ini mempunyai dua
penyakit
.

Pertama :
"Mursal, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang
Tabi’in bukan shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (hadits Mursal adalah
: seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tanpa perantara shahabat).

Kedua :
"Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah
ini seorang rawi yang Majhul. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali
Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak
menerangkan tentang celaan dan pujian baginya".

Hadits
Keempat
"Artinya : Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka
(puasa) beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL
AJRU INSYA ALLAH
(artinya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah
kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah). [Hadits
HASAN
, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa'i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan
sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]

Al-Albani menyetujui
apa yang dikatakn Daruquhni.!

Saya berkata : Rawi-rawi dalam sanad hadits
ini semuanya kepercayaan (tsiqah), kecuali Husain bin Waaqid seorang rawi yang
tsiqah tapi padanya ada sedikit kelemahan (Tahdzibut-Tahdzib 2/373). Maka
tepatlah kalau dikatakan hadits ini HASAN.

Kesimpulan.
[1]. Hadits
yang ke 1,2 dan 3 karena tidak syah (sangat dloif dan dloif) maka tidak boleh
lagi diamalkan.

[2]. Sedangkan hadits yang ke 4 karena riwayatnya telah
syah maka bolehlah kita amalkan jika kita suka (karena hukumnya sunnat
saja).

BEBERAPA HADITS LEMAH TENTANG KEUTAMAAN PUASA

Hadits
Pertama

"Artinya : Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, sedang
pertengahannya merupakan magfhiroh (ampunan), dan akhirnya merupakan pembebasan
dari api neraka"
. [Riwayat : Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asakir, Dailami dll. dari
jalan Abu Hurairah]

Derajat hadits ini : DLAIFUN JIDDAN (sangat
lemah).
Periksalah kitab : Dla’if Jamius Shagir wa Ziyadatihi no. 2134,
Faidhul Qadir No. 2815.

Hadits Kedua :

"Artinya : Dari Salman
Al-Farisi, ia berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Pernah
berkhutbah kepada kami di hari terakhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda : "Wahai
manusia ! Sesungguhnya akan menaungi kamu satu bulan yang agung penuh berkah,
bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan
yang Allah telah jadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya
sunat, barang siapa yang beribadat di bulan itu dengan satu cabang kebaikan,
adalah dia seperti orang yang menunaikan kewajiban di bulan lainnya, dan
barangsiapa yang menunaikan kewajiban di bulan itu adalah dia seperti orang yang
menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. Dia itulah bulan shabar,
sedangkan keshabaran itu ganjarannya surga…. dan dia bulan yang awalnya
rahmat, dan tengahnya magfiroh (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api
neraka..
." [Riwayat : Ibnu Khuzaimah No. hadits 1887 dan lain-lain]

Sanad
Hadits ini DLAIF. Karena ada seorang rawi bernama : Ali bin Zaid bin Jud’an. Dia
ini rawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhari,
Daruqhutni, Abi Hatim, dan lain-lain.

Dan Imam Ibnu Khuzaimah sendiri
berkata : Aku tidak berhujah dengannya karena jelek hafalannya.

Imam Abu
Hatim mengatakan : Hadits ini Munkar !!

Periksalah kitab : Silsilah
Ahaadits Dloif wal Maudluah No. 871, At-Targhib Wat-Tarhieb jilid 2 halaman 94,
Mizanul I’tidal jilid 3 halaman 127.

Hadits Ketiga

"Artinya :
Orang yang berpuasa itu tetap didalam ibadat meskipun ia tidur di atas
kasurnya"
. [Riwayat : Tamam]

Sanad Hadits ini DLA’IF. Karena di sanadnya
ada : Yahya bin Abdullah bin Zujaaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin
Bakkar bin Hilal. Kedua orang ini gelap keadaannnya karena kita tidak jumpai
keterangan tentang keduanya di kitab-kitab Jarh Wat-Ta’dil (yaitu kitab yang
menerangkan cacat/cela dan pujian tiap-tiap rawi hadits). Selain itu di sanad
hadits ini juga ada Hasyim bin Abi Hurairah Al-Himsi seorang rawi yang Majhul
(tidak dikenal keadaannya dirinya). Sebagaimana diterangkan Imam Dzahabi di
kitabnya Mizanul I’tidal, dan Imam ‘Uqail berkata : Munkarul Hadits
!!

Kemudian hadits yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Dailami
di kitabnya Musnad Firdaus dari jalan Anas bin Malik yang lafadnya sebagai
berikut :

"Artinya :"Orang yang berpuasa itu tetap di dalam ibadat
meskipun ia tidur diatas kasurnya".

Sanad hadits ini Maudlu’/Palsu.
Karena ada seorang rawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Suhail, dia ini
seorang yang tukang pemalsu hadits, demikian diterangkan Imam Dzahabi di
kitabnya Adl-Dluafa.

Periksalah kitab : Silsilah Ahaadist Dla’if wal
Maudl’uah No. 653, Faidlul Qadir No. hadits 5125.

Hadits
Keempat.

"Artinya : Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah, dan
diamnya merupakan tasbih, dan amalnya (diganjari) berlipat ganda, dan do’anya
mustajab, sedang dosanya diampuni
" [Riwayat : Baihaqy di kitabnya Su'abul Iman,
dari jalan Abdullah bin Abi Aufa]

Hadits ini derajadnya sangat Dla’if
atau Maudlu
. Karena di sanadnya ada Sulaiman bin Umar An-Nakha’i, salah seorang
pendusta (baca : Faidlul Qadir No. 9293).

Hadits Kelima.

"Artinya
: Puasa itu setengah dari pada sabar" [Riwayat : Ibnu Majah].

Kata Imam
Ibnu Al-Arabi : Hadits (ini) sangat lemah !

Hadist
Keenam.

"Artinya : Puasa itu setengah dari pada sabar, dan atas tiap-tiap
sesuatu itu ada zakatnya, sedang zakat badan itu ialah puasa
" [Riwayat : Baihaqy
di kitabnya Su'abul Iman dari jalan Abu Hurairah].

Hadits ini sangat
lemah !
[1]. Ada Muhammad bin Ya’kub, Dia mempunyai riwayat-riwayat yang
munkar. Demikian diterangkan oleh Imam Dzahabi di kitabnya Adl-Dluafa
[2].
Ada Musa bin ‘Ubaid. Ulama ahli hadits. Imam Ahmad berkata : Tidak boleh
diterima riwayat dari padanya (baca : Faidlul Qodir no. 5201).

Itulah
beberapa hadits lemah tentang keutamaan puasa dan bulannya. Selain itu masih
banyak lagi hadits-hadits lemah tentang bab ini. Hadits-hadits di atas sering
kali kita dengar dibacakan di mimbar-mimbar khususnya pada bulan Ramadhan oleh
para penceramah.[1]

[Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah
Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan
Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M]
_________
Foote
Note
[1]. Ditulis tanggal 7-11-1986

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1927&bagian=0 dengan sedikit edit dari bentuk font