Lagi tentang ASI

Tumbuh
  Kembang Otak Bayi

Usia
  0-6 Bulan

 

Bagian-bagian
  utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan   
  segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat
  gizi yang tepat.

 

 Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan
  kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan
  atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah
  terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).

Dalam
  perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak
  ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat.
  Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan
  ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah
  si keci lahir hingga ia berusia dua tahun.
Multiplikasi
  sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah
  saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps
(hubungan
  antara sel saraf)
yang sangat banyak. Jadi, di masa
  multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama
  dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.

 

Tumbuh
  kembang otak

Secara
  keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama,
  yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ),
  otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah
  mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram. Ketika usianya
  enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.

Di dalam
  otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron).
  Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:

 

  • Badan sel
        saraf
    yang bentuknya menyerupai bintang.
        Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan
        sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung
        dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat
        kompleks.

 

  • Dendrit
       
    merupakan perpanjangan dari ujung-ujung
        badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.

 

  • Akson yang
        bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian
        besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal
        sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut
        sebagai mielinasi.

 

 

Saat si kecil
  baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya
  mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai
  tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian
  tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul
  saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi”
  antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil
  mengontrol gerakan anggota tubuhnya.

Selain sel
  saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas
  melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan   kepada sel saraf.
  Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian,
  proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan
  pesan (perintah).

Otak, yang
  setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan
  yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem
  pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan
  bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.
 

Laju perkembangan
  otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak.
  Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan
  itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala
  dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya,
  ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang,
  selain volume otaknya.

 

Boks:
 

Delapan
  Tahapan Utama Perkembangan bagian-bagian otak (Jumpsen & Clandinin, 1995):
 

 

  1. Dimulai dari pembentukan tabung neural.
       
  2. Kemudian neuron (sel saraf)
        berproliferasi pada regio yang berbeda.
  3. Terjadi migrasi neuron dari
        tempat pembentukannya ke tempat yang permanen.
  4. Diikuti agregasi sel sehingga
        membentuk bagian-bagian otak.
  5. Selanjutnya neuron-neuron imatur berdiferensiasi.
       
  6. Dan terbentuk hubungan antar
        neuron (sinaps) .
  7. Tahap berikutnya terjadi kematian sel dan eliminasi
        selektif
    .
  8. Penyempurnaan mielinasi (pembentukan
        mielin).

 

 

 
   

 

Sphingomyelin
       
dan Proses Mielinasi

      

 

      

             
        Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang
        dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin
        dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside ,
        sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi
        sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.    

      

 Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf.
       
Zat ini juga mengontrol saltatory mode of
        conduction
(penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan
        tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi
        mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan,
        akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson
          tak bermielin yang paling cepat.

      

Dewasa
        ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid
        yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses
        mielinasi sistem saraf pusat.
Mielinasi sistem
        saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian
        spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian
        cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis
        terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah
        kelahiran.

      

Berbeda
        dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung
        gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid
       
dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat
        diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin,
        1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside
       
, yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin)
        di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase .
        Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang
        tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.

      

Studi
        terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT)
        meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal
       
) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada
        sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode
        tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit
        merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.

      

Oshida
        et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous
        system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003)
        memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf
        pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh
        dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat
        diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside .
        Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin
          sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin
        diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah,
        sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam
        mielinasi sistem saraf pusat.

      

Jadi,
        berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel
        saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses
        mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls
        saraf.
Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf
        dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California,
        Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang
        merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.

      

 

 

 

Kebutuhan
  gizi

Bila melihat
  periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru
  terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi
  dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya
  hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian
  sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi,
  bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.

Secara alami,
  ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses
  tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:

 

• 
  Asam lemak esensial

ASI merupakan
  sumber asam lemak esensial (asam lemak   yang harus dipenuhi kebutuhannya
  dari luar   tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua
  asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat)
  dan AA (asam arakhidonat).

  Perlu
  diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida
  (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol.
  Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan
  laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi.
  Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien
  yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien
  terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.

Fosfolipid
  ASI merupakan sumber
asam lemak tidak jenuh rantai
  panjang
( long chain polyunsaturated fatty acid
 
, LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid
  ASI   bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi.
  Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang
  paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin,
  4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.

Menurut Gopalan
  dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium
  “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina
  (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang    esensial selama
  periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis
  sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir
  dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps
  antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam
  lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan
  bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial   dan LCPUFA pada
  tahap-tahap krusial tersebut.

Apabila   
  tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka
  proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan
  berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.
 

Penelitian
  tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan
  memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian
  ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child
  Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam
  ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari
  serangan penyakit-penyakit infeksi.

Dengan demikian,
  proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan
  hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang
  perkembangan kemampuan kognitif bayi.   Sedangkan kadar DHA di dalam ASI
  yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses
  pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal.
  Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta
  IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.

 

• 
  Protein

Komponen
  dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur
  otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin
  merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter
 
). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.

 

• 
  Vitamin B kompleks

Beberapa
  jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1,
  vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi,
  maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.
 

 

• 
  Kholin

Senyawa ini
  merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin.
  Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak
  terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.

 

• 
  Yodium, zat besi, dan zat seng

Yodium dibutuhkan
  untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan
  protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam
  proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak
  selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar
  300   jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di
  dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention
  Deficit Hyperactive Disorder).

 

Agar ASI
  mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian
  ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang
  setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya,
  ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih
  banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.

Jika selama
  masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat
  gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya,
  selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas
  ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI
  pun menjadi relatif singkat.

 

 

Dewi
  Handajani

http://www.ayahbunda-online.com/info_ayahbunda/info_detail.asp?id=Bayi&info_id=258



One Response to “Lagi tentang ASI”

  1.   Eve Says:

    Wah pendukung ASI juga ya…
    Salut deh.. ada kaum laki2 yg peduli sama ASI.
    TFS ya

Leave a Reply